Senin, 10 Juni 2013

"DESAIN KELAS PESERTA DIDIK"




DESAIN KELAS PESERTA DIDIK


OLEH :
DEWI MUSPITA
KTP IV.B
10531 1802 11

JURUSAN KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013

DESAIN KELAS DAN PESERTA DIDIK
A.     Pedahuluan
Pengaturan tempat duduk siswa dalam kelompok kecil merupakan variabel yang berhubungan dengan jumlah relasi yang terjadi dalam satu kelompok belajar, meyangkut pengaturan tempat duduk.
1.      Anggota kelompok yang ditempatkan di tengah kemungkinan besar keluar sebagai pimpinan kelompok.
2.      Pemimpin-pemimpin kelompok mungkin muncul dari bagian yang paling sedikit pesertanya.
3.      Apabila berkomunikasi bebas;
a.       Komunikasi terbanyak akan terjadi antara mereka yang duduk berhadapan.
b.      Komunikasi minimal akan terjadi antara mereka yang duduk bersebelahan.
Dengan kata lain komunikasi akan cendurung mengalir  menyilang ketimbang mengitari  meja. Jadi pengaturan tempat duduk mempengaruhi jalanya diskusi, dan pada giliranya, mempengaruhi pula munculnya pola kepemimpinan dalam kelompok.
Sebagian besar pengaturan yang paparkan di sini tidak dimaksudkan menjadi susunan dan pengaturan tetap. Guru diminta menemukan anjuran-anjuran tentang bagaimana manfaat kingkungan –lingkungan ruangan kelas yang sangat tradisional sekalipun pembelajaran aktif.
1.      Pola U.Pola ini merupakan pengaturan tempat duduk yang disebut all-purpose. Siswa-siswa mempunyai alas tempat membaca dan menulis, dapat melihat guru dan dapat mempergunakan alat visual dengan mudah.
2.      Gaya Team. Meja-meja bundur dapat dikelompokkan dalam bentuk mengitari ruangan kelas dan memudahkan interaksi team.
3.      Meja Konferensi. Susunan kelas akan terasa nyaman dan sejuk tatkala tempat duduk dan meja-meja diubah-ubah letaknya.
4.      Model lingkaran : kita mengaturkan siswa-siswa  duduk secara sederhana dalam suatu lingkaran ideal untuk diskusi group penuh, hal ini dapat juga kita lakukan di luar kelas seperti dai dalam mesjid, di bawah pohon rindang, dalam kampus dan sebagainya.
5.      Group on group : pola seperti ini lebih menyenangkan untuk melakukan diskusi-diskusi fishbowl dengan mengadakan permainan-permainan peran, debat atau  ovservasi terhadap kegiatan-kegiatan group.
6.      Station-station kerja : susunan ini cocok untuk lingkungan bertipe melakukan suatu  prosedur atau tugas ( seperti menghitung, mengoperasikan sebuah mesin, melakukan pekerjaan laboratorium) begitu selesai didemostrasikan sebuah cara yang hebat untuk mendorong kemitraan belajar adalah menempatkan dua siswa pada stasion yang sama
7.      Breakout Grouping : jika ruangan kelas anda cukup besar atau jika terdapat ruangan yang dekat, tempatkan ( lebih dahulu jika mungkin) meja –meja dan/kursi-kursi yang subgroup-subgroup berbasis team.
8.      Susunan Tanda pangkat Kententuan : Suatu susunan rangka kelas tradiosional (saf-saf bangku) tidak mengembangkan pelajaran aktif.
9.      Ruangan Kelas Tradiosional : Jika rangkain saf-saf  lurus bangku atau meja dan kursi tak dapat disusun melingkar, cobalah untuk mengelompokkan kursi-kursi secara berpasangan untuk memungkinkan penggunaan mitra-mitra belajar.
10.  Auditorium : Meskipun sebuah auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk pelajaran aktif, tetap saja ada harapan.
B.     Ukuran Kelompok Peserta Didik Kelas
1.      Pelaksanaa pendidikan
Manakala kelas yang terlalu besar biasanya menjadi keluhan umum, para guru dan instruktur bahkah banyak yang percaya bahwa perbaikan mutu pembelajaran langsung dapat dicapai dengan mengelompokkan siswa-siswi di dalam kelas yang besar.
Dalam kelas yang besar, perlu dipertimbangkan ratio kominikasi, jumlah yang padat akan berbeda dengan  julmlah siswa yang sedikit dalam penerimaan informasi/sajian yang diberikan oleh guru.
2.      Teori pendidikan
Teori pendidikan menyatakan, besarnya suatu kelas atau pengelompokkan-pengelompokkan belajar diharapkan dapat mempunyai beberapa dampak yang nyata.  Di sini tekan kepada para guru dapat mengelola siswa-siswi, agar kegiatan yang dilakukan berarti dalam suatu pembelajaran.
C.     Ukuran Kelas Optimal: Penemuan Peneletian
Kepustakaan mengenai kelas optimal dan besarnya kelompok yang telah ditelaah secara berkala oleh Hudelson (1928);
Meski banyak yang berpendapat bahwa kelas-kelas kecil lebih menguntungkan keberhasilan belajar, akan nampak pada situasinya agar lebih komplek, seperti dalam matriks berikut:
Kelas Besar
·         Kelas kecil biasanya tidak lebih baik daripada kelas besar apabila digunakan tes pencapaiaan untuk mengukur penerimaan informasi secara tradisioanal.
·         Ukuran atau besarnya kelas yang optimal untuk mencapai tujuan kognitif tingkat rendah pada umumnya ialah masalah selera.
·         Dalam kelompok yang terdiri atas 12 orang siswa atau lebih, keterampilan memimpin menjadi lebih penting.
Kelompok lecil
·         Kelas yang kecil adalah optimal bila digunakan pengukuran patokan yang mengetengahkan tujuan afektif dan tujuan kognitif tingkat tinggi.
·         Dalam situasi  semacam itu besarnya kelompok yang optimal ialah 5, tapi boleh juga kelompok terdiri atas 7 orang apabila siswanya lebih matang dan lebih berpengalaman.
·         Tuturial satu lawan ialah optimal untuk mencapai tujuan afektif dengan tingkat yang lebih tinggi, dan bila siswa diminta untuk bekerja dan maju menurut kecepatan maisng-masing dengan kondisi yang lebih ditentukan.
·         Guru dan siswa,  baik secara rasional atau irasional, biasanya lebih menyukai kelas kecil.
Ukuran kelas optimal harus dihubungkan dengan sifat tujuan belajar yang akan dicapai, Data penelitian menujujjan tiga ketentuan umum yang dapat dibuat:
1.      Bila tujuan kognitif tingkat tinggi rendah dan tujuan afektif akan dicapai, kelas besar tidaklah lebih buruk daripada kelas kecil.
2.      Bila tujuan kognitif tingkat  tingggi dan tujuan afektif ingin dicapai, kelas-kelas kecil beranggotakan 5 atau 7 siswa adalah ukuran yang optimal.
3.      Bila yang ingin dicapai adalah tujuan kognitif tingkat tertinggi (evaluasi) dan tujuan afektif (karakteristik) maka tutorial satu lawan satu bahkan lebih baik daripada kelas kecil.
D.     Rentang Kontrol
Jumlah siswa yang ada di dalam kelas manakala kita hubungkan dengan rentengan kontrol guru, maka akan membuat tambahan tugas guru secara extra, dengan kata lain besarnya kelas melibatkan tugas-tugas tambahan yang harus dilaksanakan oleh seorang guru manajer.
Dalam situasi belajar di mana siswa memerlukan pengetahuan tetang hubungan dan keterampilan antar individu, pembelajaran dengan jumlah peserta didik yang besar, biasanya dikenal dengan pembelajaran tingkat rendah. Unsur pembelajaran ini meliputi ranah kognitif ,afektif dan psikomotor. Model pembelajaran tingkat rendah , lebih bersifat stadium general, atau penyampain hanya bersifat umum, dan tidak dimaksudkan memberikan suatu skil tertuntu secara detil dan mendalam. Model kelas seperti ini, banyak digunakan untuk kegiatan pembelajaran model seminar, simposium, sarasehan atau diskusim, yang intinya adalah melibatkan peserta didik dalam jumlah yang besar.
E.     Konsekuensi dan Bertambah Besarnya Kelompok
Pada umunya, penelitian membuktikan bahwa besarnya kelompok mempunyai beberapa akibat. Kalau semua hal ini lain sama, makin besar sebuah kelompok:
1.      Makin besar tuntun pada guru di satu pihak, sedang di lain pihak makin kecil tuntutan pada siswa untuk menggunakan keterampilanya.
2.      Makin besar toleransi kelompok terhadap pengarahan dari guru pemimpin, dan makin menonjol di bandingkan dengan anggota-anggota lainya.
3.      Makin besar kecenderungan dari anggota-anggota yang lebih aktif mendominasi interaksi dalam kelompok.
4.      Makin besar kecenderungan dari anggota-anggota yang kurang aktif untuk lebih sungkan dan takut berpartisipasi
5.      Susana makin kurang intim, kegiatan tentang fenomena ini, kebayakan menunjukkan penggarisan yang sama dalam situasi pemecahan masalah yaitu 5 sampai 7 anggota seperti telah dibahas sebelumnya.
F.      Ukuran Optimal Untuk Tutorial
Masih ada satu masalah yang perlu dibicarakan di sini, yaitu ukuran optimal dari kelompok-kelompok tutorial, kecuali hasil karya Cottrel (dalam, 1964), menyatakan hampir tidak ada penelitian yang berarti tentang efesiensi pengajaran tutorial. Sebenarya tutorial satu lawan satu telah dengan tajam dikritik dalam laporan 1963 dari The Robins Committee on Higher Education, terutama karena tiga alasan:
1.      Mereka beranggapan bahwa bagi kebayakan mahasiswa berkelompok tiga atau empat orang akan lebih menguntungkan
2.      Mereka berpendapat bahwa waktu guru terlalu banyak terbuang sebab ia terpaksa mengulang-ulangi materi yang sama banyak kali.
3.      Mereka berpendapat bahwa sebagai strategi mengajar metode ini terlalu mahal.
G.    Membentuk Strategi Komunikasi dalam Kelompok
Pengambilan keputusan dan penyelesaian problem yang dilaksanakan secara sistematik telah merupakan sifat atau karateristik dari banyak program pendidikan dan latihan.
Secara umum, ada 4 sebuah strategi ataupun alat bantu yang dapat digunakan untuk penyajian peraturan, prosedur, dan perintah yang kompleks agar dapat diambil keputusan yang tepat dan persoalan-persoalan dapat diatasi.
1.      Strategi yang tidak dapat menjamin bahwa persoalan dapat dilakukan dengan baik, ialah:
·         Prosa yang beruntun, cara ini merupakan metode penyampaian yang paling umum.
·         Huristik, cara ini terdiri dari proses mencoba-coba atau penemuan (Discovery).
2.      Strategi yang benar-benar dapat menjamin pemecahan yang baik, asal saja informasinya tepat akurat, ialah:
·         Algoritma, cara ini ialah resep atau seperangkat yang disajikan dalam format pohon keluarga.
·         Tabel keputusan, ini juga merupakan resep, tetapi hal itu berbentuk pertayaan yang harus di jawab.
Masing-masing strategi ini mempunyai kelebihan serta kekurangan, untuk itu strategi tersebut perlu dibicarakan satu demi satu
1). Komunikasi dengan Prosa yang Beruntun
Cara ini adalah paling umum dan paling jelas untuk memberikan satu informasi, sebagai besar contoh menggunakan cara ini, tetapi kini makin nyata bahwa prosa bukan satu-satunya strategi yang optimal untuk menyajikan perintah yang kompleks.hasil penelitian dapat dilihat dalam gambar di bawa ini yang ditinjau dari sudut komunikasi:
·         Kalimat-kalima pendek dan sederhana lebih disukai dari pada kalimat-kalimat yang kompleks.
·         Kata-kata atau anak-anak kalimat penganti kata sifat, kata penghubung serta bentuk pasif,harus dihindari sejauh mungkin.
·         Kalimat negatif (mengelak) seharusnya tidak digunakan
2). Strategi Hurustik
Hurstik meliputi suatu proses mencoba-coba atau penemuan, di bawa ini ada sebuah contoh yang mengambarkan hal tersebut:
“jika kita ingin mencoba memperpendek rencana yang sistimatis dengan cara mereka, minta bantuan , ataupun dengan mencoba mengigat kapan kita terahir melihatnya, dan sebagainya, maka rencana yang sedang kita tempuh adalah Huristik, suatu rencana yang sistematis memang mungkin akan berhasil, tetapi akan sebuah rencana yang Huristik mungkin murah dan cpat, tetapi sering gagal memberikan hasil yang dinginkan” (Miller Galanter Dn Pribram, 1960).
Strategi huristik atau penemuan secara umum dapat memberi dampak sebagai berikut:
1.      Jumlah kemungkinan sangat besar.
2.      Jumlah kemungkinan interaksi sangat besar dan hubunganya konpleks.
3.      Struktur dasarnya tidak diketahui.
4.      Resiko untuk melakukan pemilihan yang salah dapat diterima.
3). Strategi Algoritma
Algoritma adalah suatu rencana yang sistenatik, yang berbeda dengan hurstik. Jika pekerjaan dilakukan secara cermat, teliti akan mendapat hasil yang sukses, strategi algoritma, mengedepanlkan model payung, yaitu dengan merinci pekerjaan secara urut dan detil.
Secara historik penemuan ini ditemukan oleh Wason dan Jones di Univesitas London untuk mengambar peraturan-peraturan serta tata cara pemerintah, dan kemudian oleh Lewis, Gane, Horabin dari Cambridge, yang menjadi konultan industri dan dagang. Beberapa bentuk dapat dilakukan dengan mempergunakan algoritma, meskipun akan lebih baik jika dibatasi menjadi interaksi dan hasil yang terbatas, karena hal ini meningkat dalam ukuran dan kompleksitasnya, maka algoritma menjadi sangat besar dan sangat sulit untuk digunakan. Namun demikian, algoritma lebih tepat untuk menyajikan struktur, prosedur, dan jumlah butir keputusan yang terbatas, algoritma kurang dapat digunakan dalam bentuk tugas-tugas deskriminasi ganda, seperti yang ditemukan dalam pemeriksaan fungsi suatu alat atau dalam menemukan kesalahan pada alat tertentu.

#SEMOGA BERMANFAAT YAH KAWAND :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar